LiputanA6, Surabaya – Akibat cuaca buruk disertai hujan mengganggu penguapan air laut dan menurunkan kualitas garam, selain itu kondisi ini bisa menghancurkan infrastuktur tambak seperti kincir.
Mendung dan hujan mempersulit proses penguapan air laut yang merupakan langkah krusial dalam proses kristalisasi garam, akibatnya proses produksi lebih lambat atau bahkan tidak berjalan.
Cuaca buruk disertai hujan dapat menurunkan kadar salinitas air di tambak dan ini dapat memperlambat proses kristalisasi garam.
Iklim berubah tidak menentu atau anomali Iklim menyulitkan petani untuk menggarap lahan garam mereka.
Perubahan iklim yang tidak menentu telah menyulitkan petani garam menghadapi ancaman serius , produksi garam yang sangat tergantung pada kondisi cuaca ini terganggu dan mengancam produksi garam.
H.Ludi petambak garam asal Surabaya Barat yang mempunyai lahan di Osowilangun dan Babat Jerawat mengatakan bahwa akibat cuaca buruk ini produksi garam sangat menurun.
Proses penggarapan tambak garam yang kami mulai sejak bulan Juli 2025 dengan luas 17 H. Karena cuaca yang buruk dan hujan maka proses pembuatan garam hampir dibilang gagal biasanya bisa panen 18000 karung sekarang cuma dapat 6000 karung.
Proses selanjutnya tunggu satu ( 1) Minggu lagi untuk penggarapan lahan garam kalau cuaca sudah membaik tapi kalau cuaca tambah buruk secara otomatis tahun ini kami gagal.
Ia mengatakan memilih untuk menunggu perkembangan cuaca kemarau ini sehingga dapat dipastikan penggarapan akan tertunda hingga cuaca benar-benar baik.
Dari pada merugi lebih besar lebih baik menunda penggarapan penggaraman , kalau dipaksakan bukan tidak mungkin kerugian lebih besar, akibat hujan air yang sudah tua dan siap di produksi menjadi butiran kristal garam menjadi rusak ungkap H. Ludi.(A6)











